Tentang Moving Average (MA)
- Moving Average (MA) baik itu SMA atau EMA adalah indikator teknikal yang banyak digunakan untuk menentukan tren harga dalam periode rentang waktu (timeframe pada chart) tertentu.
- Moving Average (MA) paling umum digunakan untuk mengidentifikasi arah tren dan untuk menentukan level support dan resistance harga suatu saham.
- Garis-garis Moving Average (MA) yang popular di antaranya adalah MA5, MA20, MA50, MA100, MA200.
- Garis Moving Average (MA) merepresentasikan harga rata-rata saham tersebut berdasarkan harga dari ‘sekian’ candle ke belakang pada timeframe yang digunakan di chart. Jika menggunakan MA20, maka garis MA20 di candle tersebut berada pada harga rata-rata 20 candle ke belakang, dan seterusnya.
- Ketika harga saham melintasi garis Moving Average (MA) baik ke atas atau ke bawah, maka itu dapat dijadikan sebagai sinyal untuk aksi beli atau jual.
Strategi Beli-Jual Menggunakan Moving Average (MA)
- Beli saham ketika harga melintasi garis MA tertentu (pelajari historisnya). Contoh di gambar paling atas adalah chart saham ADRO dengan menggunakan garis MA50 (merah). Maka membeli saham ketika harga melintas ke atas garis MA50, dan kemudian menjual sesuai dengan target keuntungan atau jika terkena Trailing Stop (TS). Atau juga bisa menjadikan MA50 sebagai support. Maka momentum ketika harga saham turun ke bawah garis MA50 adalah saatnya untuk menjual atau Take Profit (TP) seperti terlihat di gambar 2. Tentunya analisa ini tidak dapat sepenuhnya berdiri sendiri dan perlu didampingi oleh analisa lainnya seperti analisa fundamental, bandarmology, atau indikator teknikal lainnya.
- Cara lainnya adalah dengan menggunakan 2 garis MA. Misalnya garis MA5 dan MA30 di saham ADRO seperti pada gambar 3 dan 4. Maka ketika garis MA kecil (MA5) melintas ke atas garis MA besar (MA30) mengindikasikan sinyal Buy, hal ini juga biasanya disebut sebagai Golden Cross (GC). Kemudian sebaliknya, ketika garis MA5 melintas ke bawah garis MA30, maka dianggap sebagai sinyal Sell, hal ini juga biasanya disebut sebagai Death Cross (DC). Sekali lagi, tentunya analisa ini tidak dapat sepenuhnya berdiri sendiri dan perlu didampingi oleh analisa lainnya seperti analisa fundamental, bandarmology, atau indikator teknikal lainnya



