Di dunia saham terdapat beragam jenis analisis, seperti analisis fundamental, analisis teknikal, analisis bandarmology, analisis tape reading, dan masih banyak lagi. Pada artikel ini hanya akan dibahas mengenai analisis fundamental. Penjelasan analisis bandarmology dan analisis tape reading akan dibahas di artikel berjudul “Jenis-Jenis Analisis Saham”.
Analisis fundamental merupakan jenis analisis yang berkaitan erat dengan laporan keuangan suatu perusahaan. Seorang investor jangka panjang harus bisa memahami dan menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan agar dapat mengukur kinerja perusahaan tersebut dari watu ke waktu. Biasanya laporan keuangan perusahaan dirilis atau dilaporkan setiap 3 bulan sekali (triwulan). Nah, di waktu itulah seorang investor jangka panjang melakukan analisisnya untuk memutuskan apakah masih lanjut berinvestasi di perusahaan tersebut atau tidak. Terdapat beberapa bagian atau rasio dari laporan keuangan yang sering dijadikan bahan analisis untuk mengukur kinerja suatu perusahaan. Beberapa rasio yang sering digunakan tersebut sebagai berikut.
- Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio Lancar digunakan untuk mengetahui tingkat likuiditas suatu perusahaan dengan membandingkan antara besar aset dan utang (kewajiban), berikut rumusnya.

Ukuran rasio yang baik ketika hasil pembagian antara aset lancar dan kewajiban lancar menghasilkan angka 1 atau di atasnya. Jika rasionya kurang dari angka 1 berarti perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban lancar yang dimiliki karena kewajiban lancarnya lebih besar daripada aset lancarnya.
- Asset Turnover
Asset Turnover digunakan untuk menilai seberapa efisien aset yang dimiliki perusahaan untuk menciptakan penjualan atau berapa banyak penjualan yang bisa dihasilkan dari aset yang dimiliki oleh perusahaan, berikut rumusnya.


Semakin besar hasil yang didapatkan dari perhitungan asset turnover maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan aset yang dilakukan oleh perusahaan semakin efisien karena mampu menghasilkan penjualan yang besar. Sebaliknya semakin kecil hasil yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan aset yang dilakukan ileh perusahaan berarti belum efisien.
- Price to Earning Ratio (PER)
Price to Earning Ratio merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menilai apakah suatu perusahaan itu menguntungkan atau tidak. Rasio ini menggunakan perbandingan antara harga saham dan pendapatan atau laba tiap lembar sahamnya (Earning per Share (EPS). EPS sendiri dapat kita hitung dengan menggunakan rumus berikut.

Jika sudah mendapatkan EPS, selanjutnya kita dapat mencari nilai PER melalui rumus berikut.

Semakin besar hasil yang didapatkan dari perhitungan PER maka dapat disimpulkan bahwa saham tersebut kurang menguntungkan karena harga saham yang sangat besar dan EPS nya yang kecil. Sebaliknya, jika semakin kecil hasil yang didapatkan maka perusahaan tersebut semakin menguntungkan.
- Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajibannya dengan membandingkan besarnya kewajiban dengan besarnya modal atau ekuitas (equity) yang dimiliki oleh perusahaan.

Ukuran rasio yang baik ketika hasil pembagian antara total kewajiban dan total ekuitas menghasilkan angka 1 atau di bawahnya. Jika rasionya lebih dari angka 1 berarti perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk melunasi total kewajiban yang dimiliki karena total kewajibannya lebih besar daripada total ekuitasnya.
- Debt to Asset (DAR)
Hampir sama dengan DER, Debt to Asset Ratio digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajibannya dengan membandingkan besarnya kewajiban dengan besarnya aset yang dimiliki oleh perusahaan.

Ukuran rasio yang baik ketika hasil pembagian antara total kewajiban dan total aset menghasilkan angka 1 atau di bawahnya. Jika rasionya lebih dari angka 1 berarti perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk melunasi total kewajiban yang dimiliki karena total kewajibannya lebih besar daripada total asetnya.
- Price to Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV)
PER dan PBV merupakan rasio yang paling banyak digunakan oleh para investor untuk menilai valuasi suatu saham apakah sudah terlalu mahal atau malah masih terlalu murah. Kebanyakan investor menganggap saham dengan PER kurang dari 15 dan PBV kurang dari 1,5 adalah saham yang masih memiliki valuasi murah dan layak untuk diinvestasikan. Namun, pandangan murah atau mahal suatu perusahaan sangat bersifat subjektif tergantung pada penilaian masing-masing investor. Berikut rumus PER dan PBV.



Semakin kecil nilai PER dan PBV suatu saham maka dapat dikatakan saham tersebut masih memiliki valuasi yang murah. Sebaliknya, semakin besar nilai PER dan PBV suatu saham maka dapat dikatakan saham tersebut sudah memiliki valuasi yang mahal.
Oleh: A. R. Agustian




One thought on “Pemula Wajib Tahu: Rasio-Rasio dalam Analisis Fundamental”
Comments are closed.